apa saja yang dijual tukang sayur keliling

Mudahmudahan saja sahabat properti tidak menemui kendala karena kemacetan ketika mencari tempat tinggal dijual yang nyaman, fasilitas lengkap dan harga terjangkau. Setiap pagi mulai dari jam 07.00 Wib sampai 11.00 Wib, jalanan di beberapa ruas Ibukota terasa sangat kejam sekali. 1Pedagang kue putu (Ini sudah hampir tidak pernah lagi lewat depan rumah ataupun dalam Gg rumah saya) 2.Pedangang odong-odong keliling (Sudah tidak ada lagi berkeliling, kebanyakan hanya mangkal di suatu tempat) 3.Pedangang gorengan keliling (Ini hanya sesekali jika beruntung bisa menemukan nya di sekitaran rumah) Chindy SengsaraMembawa Nikmat adalah sebuah novel karya Tulis Sutan Sati yang terbit pertama kali pada tahun 1929. Novel itu diterbitkan oleh Balai Pustaka sebagai novel yang dianggap memenuhi kriteria Balai Pustaka. Novel ini diterbitkan untuk cetakan ke-2 pada tahun 1972. Penerbit cetakan ke-3 dilakukan pada tahun 1991, dan cetakan ke-4 dilakukan AKHIRNYA 32 rekomendasi Kuliner Cirebon yang wajib dicoba dari Tukang Ngider, SELESAI! Gak sangka, tulisan ini berisi lebih dari 4.500 dengan total 15 halaman A4. Akhir kata, semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat membantu teman-teman yang bingung mau mencari Kuliner Cirebon. Bagaimanakalau bertanya pada tukang buah keliling, yang suka lewat sebentar lagi. (Tersenyum lebar) Bu Ani Pasti kamu sudah berkompromi dengan bu Siti kan ngaku aja untuk mengambil mangga saya Meilleur Site De Rencontre Au Quebec Gratuit. JAKARTA — Kedai Sayur kemarin 27/5/2019 mengumumkan pendanaan senilai US$1,3 juta dari sekelompok investor yang dipimpin oleh East Ventures. Perusahaan rintisan yang berdiri pada akhir 2018 ini memiliki misi untuk membantu pedagang sayur dengan mendisrupsi rantai pasok perdagangan produk segar di Indonesia memanfaatkan Kedai Sayur, masyarakat Indonesia mengonsumsi berbagai produk segar seperti sayuran, buah, daging, dan ikan setiap hari. Pada tahun 2017 saja, nilai konsumsi produk segar di Jakarta, Bandung, dan Surabaya diperkirakan mencapai US$8,4 Miliar atau setara Rp 120,9 triliun. Hingga hari ini, hampir seluruh produk segar tersebut dijual dan didistribusikan dengan mengandalkan pedagang keliling yang lebih dikenal dengan sebutan tukang sayur. Di Indonesia terdapat dua tipe pedagang sayur yaitu adalah pedagang sayur yang memiliki kios dan tukang sayur keliling dengan gerobak yang ditarik oleh tangan atau menggunakan sepeda. Meskipun masyarakat sangat mengandalkan tukang sayur keliling dalam memenuhi kebutuhan dapur mereka, para pedagang mengalami kesulitan dalam mendapatkan barang berkualitas tinggi dengan harga terbaik dari satu sumber. Perjalanan produk segar sendiri untuk sampai ke tangan tukang sayur sangat panjang, dimulai dari para petani yang mengumpulkan hasil panen mereka ke pengepul. Setelah melewati beberapa tangan pengepul, hasil panen tiba di pasar induk dan disebarkan ke beberapa pedagang lainnya. Selanjutnya, tukang sayur akan pergi ke pasar induk setiap hari saat tengah malam untuk membeli produk jualan mereka untuk kemudian diperjualkan lagi kepada warga perumahan yang panjang ini membuat tukang sayur sulit menemukan produk segar dengan mudah dan cepat. Terlebih lagi, harga pokok sayur menjadi berlipat-ganda dan menekan keuntungan tukang sayur. Kedai Sayur mengatasi masalah ini melalui kerja sama dengan beberapa petani dan mitra lainnya secara langsung untuk pemilihan produk segar dan distribusi. Tukang sayur yang bergabung sebagai Mitra Sayur dapat mengakses produk segar berkualitas dengan harga terbaik hanya dalam satu sentuhan jari saja melalui aplikasi Kedai Sayur. Produk tersebut nantinya dapat diambil Mitra Sayur pada titik drop-off terdekat dengan Sayur juga menawarkan Mitra Sayur sebuah kendaraan distribusi jenis baru yang disebut Si Komo singkatan dari Kedai on Mobile. Kendaraan ini memungkinkan Mitra Sayur untuk menjangkau pelanggan mereka dengan lebih efisien dan membawa lebih banyak produk sekaligus. Dengan desain yang unik, kendaraan ini juga dapat dialih-fungsikan untuk layanan lainnya seperti pengantaran paket ataupun menjual ini memungkinkan Mitra Sayur untuk mendapatkan pendapatan tambahan setelah selesai menjual produk segar mereka hari itu. Kedai Sayur juga menawarkan program pembiayaan bagi Mitra Sayur yang ingin mendapatkan Si Komo, tetapi memiliki modal yang terbatas. Kedai Sayur didirikan oleh mantan Deputy Director of Business Process dan IT Triputra Group Adrian Hernanto beserta kedua rekannya, Ahmad Supriyadi dan Rizki Kedai Sayur Adrian Hernanto mengungkapkan, melalui jaringan kami yang luas dan penggunaan teknologi, perusahaan memberdayakan pasar produk segar dan membuktikan bahwa penduduk ekonomi tingkat manapun, termasuk tukang sayur, dapat merasakan manfaat dari inklusi teknologi.“Kami percaya bahwa misi kami mampu meningkatkan kehidupan para tukang sayur dengan membebaskan mereka dari jam kerja yang tidak teratur dan berbagai kesempatan untuk mendapatkan penghasilan tambahan,” ujarnya, seperti dikutip, Senin 27/5.Hingga hari ini, Kedai Sayur telah memiliki mitra bergabung di area Jakarta dan terus meningkat hingga 60% setiap bulannya. Sebanyak 80% mitra secara aktif menjual produk mereka dan pertumbuhan total nilai penjualan barang GMV Kedai Sayur mencapai 5x lipat dalam empat bulan terakhir. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Mendengar istilah pedagang sayur, sering dikonotasikan dengan tukang sayur keliling di perkampungan atau perumahan yang sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Padahal profesi tukang sayur keliling ini cukup menjanjikan untuk mendapat keuntungan selama tekun tulisan kali ini penulis memberi tips menjadi pedagang sayur antar kota atau pasar induk yang bisa juga disebut pedagang pengepul. Pedagang pengepul sedikit di bawah tengkulak yang bisa membeli dan menjual dalam jumlah besar, paling tidak tiga atau empat ton sayur atau buah sejenis. Sedang pedagang pengepul hanya membeli untuk dikirim ke pedagang lainnya di luar kota atau pasar induk dengan jumlah tak lebih dari dua ton sayur sejenis. Bahkan malah sering hanya sekitar 50-70 kg sayur sejenis namun yang dijual lebih dari 5-9 jenis. Misalnya menjual atau mengirim tomat, sawi, kangkung, labu, mentimun, kentang, kacang panjang, cabai, jagung, buncis, jeruk nipis, lemon, dan terong. Tergantung adanya pasokan atau adanya hasil panen dari petani. Pedagang pengepul bisa juga disebut suplyer kecil-kecilan sebab hanya mensuplai ke sesama pedagang atau ke rumah makan dan komunitas seperti asrama, pondok pesantren, atau biara dengan jumlah tak lebih dari 20-30 kg. Ini tampaknya sebuah usaha kecil-kecilan, tetapi untuk menjadi besar bukankah dimulai dari yang kecil? 30 kg tomat untuk Pasar Induk Gadang. Dokpri 50 kg untuk dua pedagang di Keputran. Dokpri Untuk sebuah rumah makan di Wonokromo. Dokpri Beberapa tips menjadi pedagang pengepul, sesuai dengan pengalaman penulis ini akan memberi petunjuk bagi siapa pun yang ingin sukses di sektor informal yang tahan banting dalam tekanan gejolak komunikasi dengan pedagang di pasar induk atau komunitas untuk memahami kebutuhan pasar. Pada awalnya penulis memang seorang guru dan karyawan yang nyambi menjadi petani sayur untuk dijual ke pedagang pengepul. Suatu saat harga sayur sangat jatuh, untuk menghindari kerugian penulis menawarkan dengan harga miring ke rekan-rekan guru dan pimpinan asrama serta biara yang disambut dengan baik. Sejak saat itulah mulai memasok asrama dan biara setiap dua hari sekali dengan jumlah tak terlalu banyak namun dengan beberapa jenis seperti cabai, sayur, dan kentang. Berawal dari sini pula pada akhirnya penulis dikenal dan memasok dua asrama dan biara di Surabaya. Kesempatan semakin terbuka ketika penulis sepulang mengirim ke asrama lalu mampir Pasar Keputran Surabaya dan menawarkan hasil tani ke beberapa pedagang yang ternyata mau membeli. Sejak saat itulah penulis terus berkomunikasi dengan pimpinan arama, biara, dan pedagang di Pasar Keputran untuk menanyakan kebutuhan mereka. Dokpri Transaksi sederhana. Dokpri Petani masa kini sudah memakai hape. Dokpri Jalin komunikasi dengan petani. Sebagai seorang petani dengan lahan yang tak terlalu luas dan hanya menanam satu jenis komoditas, maka setiap hari sepulang bekerja penulis harus keliling sawah untuk menemui petani dan mendapat pasokan sesuai dengan permintaan pembeli asrama dan biara atau pedagang di Keputran. Beruntung, sejak 2010 hape mulai membumi di kalangan petani sehingga tidak perlu lagi setiap hari keliling sawah. Kecuali sejak pensiun jadi guru, hampir setiap hari gowes mencari komoditas sambil dengan harga pasar. Jangan mencoba menawar cukup rendah kala harga naik karena permintaan juga naik, sebab petani masa kini selalu mengikuti perkembangan harga lewat komunikasi media sosial juga. Jika kita menawar dan mereka bertahan maka akan membuang waktu dan semakin rugi jika mereka tidak mau memasok dengan harga kompetitif. Di saat pasokan menipis sedang permintaan naik, harga pembelian dari petani biasanya naik pula. Merupakan hal yang wajar jika kita ikut menaikkan harga, namun sebaiknya tetap kompetitif sebagai pemecahan win-win solution agar pedagang atau pembeli yang kita pasok tetap percaya dan berlangganan dengan kita. Beri reward pada petani dan pembeli. Kepercayaan yang diberikan pada petani untuk memasok kita dan pembeli yang tetap percaya pada kita sebagai pemasok hendaknya diberi penghargaan sebagai ucapan terima kasih. Penghargaan bisa berupa memberi imbuh atau potongan harga setiap bulan sekali dan mengunjungi dan memberi mereka hadiah pada saat hari raya. Memeriksa komoditas siap panen dan siap dibeli. Dokpri Melihat dan mengamati mutu. Dokpri Periksa dengan teliti. Dokpri Tips menjadi pedagang pengepul atau suplyer kecil-kecilan ini, jika dihitung secara sederhana ternyata juga sangat menguntungkan secara ekonomi. Mari kita hitung sekali kirim dengan menggunakan kendaraan pick-up bisa mengangkut kg atau 2 ton komoditas aneka sayur. Jika rerata keuntungan setiap kg sayur sebesar rupiah maka keuntungan kotor bisa mencapai x = dua juta rupiah .Pendapatan murni Keuntungan kotor - ongkos sopir - BBM - retribusi TOL & parkir = - - - = satu juta empat ratus dua puluh lima ribu. Tentu saja keuntungan ini naik turun sesuai dengan fluktuasi harga setiap komoditas. Tentu semakin bertambah jika mempunyai pelanggan yang banyak sehingga bisa mengirim setiap dua hari sekali. Pengepul kecil sedang mengirim ke rumah. Dokpri Pengepul kecil. Dokpri Ada juga petani yang langsung kirim ke rumah. Dokpri Mungkin ada yang bertanya, apakah selama ini saya membeli sendiri di tingkat petani? Budaya Jawa mengatakan 'rejeki aja dipangan dhewe' yang artinya 'rejeki jangan diambil atau dimakan sendiri'. Maka kami sering membeli dari pengepul kecil dengan selisih harga per kg tidak sampai tiga ratus rupiah. Jika pasokan menurun, biasanya penulis mencari dan membeli sendiri ke petani namun yang mengirim ke rumah tetap si petani sendiri atau mengutus orang lain ke rumah atau ke tempat tertentu di mana kami menunggu dengan ongkos yang sinilah keguyuban mulai dari petani pemilik lahan, petani pengolah lahan, buruh tani, dan pengepul kecil begitu terjalin. Sekali pun ada ahli sosiologi yang mengatakan sistem distribusi dan pemasaran komoditas pertanian di negeri kita sangat panjang dan berliku serta tidak rukun agawe santosa. Keguyuban akan membawa kesejahteraan. 1 2 Lihat Money Selengkapnya Adrian Hernanto, founder Kedai Sayur, startup yang dapat membantu kalangan pedagang sayur Jangan dikira hanya jenis industri modern seperti perbankan, jasa transportasi, atau media saja yang terkena disrupsi teknologi. Tukang sayur keliling pun mulai terancam disrupsi ini, terutama dengan kemunculan startup berbasis teknologi yang menjual produk sayur-mayur ke konsumen akhir end customer. Mengaku resah dengan fenomena tersebut, Adrian Hernanto bersama dua rekannya memutuskan mendirikan startup yang dapat membantu kalangan pedagang sayur -baik tukang sayur berkios maupun tukang sayur keliling yang menggunakan gerobak- untuk meningkatkan bisnis mereka. Perusahaan rintisan ini bernama Kedai Sayur. Sebagai marketplace sayuran, Kedai Sayur dapat mempermudah tukang sayur dalam pengadaan produk sayuran yang akan dijual ke konsumen akhir rumah tangga. Pasalnya, marketplace ini juga terhubung dengan para petani produsen ataupun pemasok sayuran. Mitra Sayur -sebutan untuk pedagang sayur yang menjadi rekanan Kedai Sayur- bisa memesan sayuran yang akan dijualnya lewat aplikasi, yang sangat user-friendly bagi kalangan pedagang sayur umumnya. Tentu, mereka harus mengunduh aplikasinya lebih dulu di App Store. Tampilan layout aplikasi ini seperti etalase. Mitra Sayur tinggal memilih jenis dan jumlah sayur yang akan dibeli. Setelah itu, tinggal klik tombol Confirmation Order. Untuk pembayaran, Kedai Sayur bermitra dengan Alfamart. Enaknya lagi, Mitra Sayur juga dibolehkan membayar ke Kedai Sayur setelah menjual barang dagangannya. Menariknya, meski kini terjun menggarap bisnis terkait sayuran, sebenarnya Adrian tak punya latar belakang pendidikan di bidang pertanian. Ia menyelesaikan pendidikan S-1-nya di Jurusan Teknik Sipil Universitas Parahyangan selesai 1995 yang dilanjutkan ke S-2 Magister Manajemen Institut Teknologi Bandung selesai 1997. Lalu, ia bekerja di Adira Finance selama delapan tahun, dengan posisi terakhir sebagai kepala divisi pengembangan operasi. Kariernya berlanjut selama enam tahun di Triputra Agro Persada, dengan posisi terakhir sebagai deputi direktur bidang proses bisnis & TI. Perjalanan karier di Triputra itulah yang tampaknya ikut andil mengembangkan ketertarikan Adrian menekuni bisnis startup yang terkait usaha mikro. Pada beberapa kesempatan, ia bertemu dengan Theodore P. Rachmat, pendiri Grup Triputra, yang kerap menyampaikan visi tentang penghapusan kemiskinan. “Dari situ, saya mulai tergerak untuk memiliki visi yang sama dengan beliau,” ujar Adrian. Menurut dia, setidaknya ada dua hal dari bisnis penjual sayur yang akan dibantunya. Pertama, bagaimana membantu pedagang sayur mendapatkan sayuran yang segar fresh dan mengefisienkan waktu penjualan mereka. Kedua, membantu mereka yang umumnya bermodal kecil dengan menyediakan produk yang semurah mungkin, karena pihaknya bisa langsung membeli dari petani produsen atau pemasok besar. Dalam perkembangan gagasan ini, Adrian bertemu dengan Ahmad Supriyadi, seorang motivator yang biasa bekerjasama dengan Triputra. Ahmad yang terlahir dari keluarga penjual sayur langsung tertarik dengan ide Adrian. Ahmad, kata Adrian, paham sekali struktur bisnis dan pasar persayuran. Mereka berdua bertemu dengan seorang profesional bernama Rizki Novian, yang tertarik untuk membantu merealisasi ide tersebut. Mereka bertiga kemudian mendesain model bisnis yang bertujuan mempermudah tukang sayur menjalankan bisnis. “Bulan Juli 2018 semua konsepnya sudah rampung, dan kami mengeksekusinya pada Oktober 2018,” ungkap Adrian. Modal awal sebesar US$ 1,3 juta ditanamkan. Modal ini terutama dipakai untuk mengembangkan aplikasi, merekrut karyawan, dan membangun pusat distribusi distribution center/DC. Setelah makin jelas implementasi visi-misi bisnisnya, Adrian mengaku dukungan terhadap Kedai Sayur mulai berdatangan. Termasuk, dari segi pendanaan. Triputra pun menjadi salah satu investor Kedai Sayur. Awalnya, cerita Adrian, mereka bertiga belanja sayur sendiri ke pasar induk atau pemasok, lalu disimpan sebagai stok di DC. “Dulu, DC kami belum seluas m2 seperti sekarang, melainkan hanya 200 m2 di kawasan Kalibata,” ungkap. Dalam tiga bulan, ternyata sudah tidak cukup, sehingga mereka membangun DC di Cilangkap. Adapun ruang di Kalibata tadi diubah menjadi kantor. Kedai Sayur memiliki divisi pemasaran dan hubungan pelanggan yang bertugas di lapangan, memetakan para tukang sayur serta memperkenalkan visi-misi dan program perusahaan berbasis teknologi ini. Selanjutnya, tentu saja mereka mengajak para tukang sayur itu untuk bergabung sebagai Mitra Sayur. Kini, dalam usia kurang dari setahun, Kedai Sayur telah menggandeng sekitar Mitra Sayur di seluruh Jakarta, terdiri dari sekitar 60% tukang sayur keliling dan 40% kios sayur. Kedai Sayur saat ini menyediakan sekitar 300 jenis komoditas. Pasokannya berasal dari 24 sumber source di Bogor, Cipanas, dan sekitarnya, yang terdiri dari petani produsen dan lembaga pemasok. “Jadi, kami memberikan pilihan lebih banyak daripada di pasar,” kata Adrian. Selain itu, ia menjamin sayur dari Kedai Sayur lebih segar dibandingkan dari pasar pada umumnya dan harganya lebih murah. Yang disediakan Kedai Sayur sesungguhnya tidak melulu sayuran, tetapi juga buah-buahan, bahkan daging dan ikan. “Kami selalu berkomunikasi dengan para Mitra Sayur, kira-kira produk apa yang paling dibutuhkan konsumen,” katanya. Kedai Sayur punya divisi sourcing, yang pekerjaannya memang mencari mitra pemasok di sentra-sentra komoditas. Misalnya, mereka pergi ke Brebes untuk mencari mitra di sentra produksi bawang. Dari sekitar 24 source tadi, setiap hari Kedai Sayur menerima pasokan 150-200 ton, yang disimpan di DC-nya di Cilangkap. Adrian menyebutkan, kini Kedai Sayur setiap hari menerima order. Ada Mitra Sayur yang mengorder dua hari sekali, yakni mereka yang punya kios karena dapat menyimpan komoditas dagangannya lebih lama. Berdasarkan pengalaman selama ini, rata-rata satu Mitra Sayur mengorder senilai Rp 500 ribu. “Tapi ada juga yang nilai pesanannya di atas Rp 3 juta,” katanya. Ia mengungkapkan, Kedai Sayur mengambil margin keuntungan 3-5% dari transaksinya. Untuk mendorong pembelian, Kedai Sayur punya program reward point. Poin yang terkumpul bisa ditukar dengan produk seperti telepon seluler, motor, bahkan program umroh. Guna membantu mobilitas dan memperluas jangkauan pedagang sayur, sejak Maret 2019 Kedai Sayur juga menyediakan kendaraan pengangkut sayuran roda tiga. Mereka yang berminat bisa mendapatkanya secara mencicil -Kedai Sayur bekerjasama dengan BRI untuk pendanaannya. Untuk melayani mitranya, Kedai Sayur kini diperkuat total 120 karyawan 50 orang di bagian pemasaran, 50 orang di DC, dan sisanya di divisi sourcing serta di back office. Sunarto, salah satu Mitra Sayur yang biasa beroperasi di kawasan Kebayoran, mengaku amat terbantu dengan kehadiran Kedai Sayur. Ia menceritakan, sebelumnya di tengah malam harus menuju Pasar Induk untuk berbelanja sayur. Selain kondisi masih agak mengantuk, hal ini juga memakan waktu. Setelah bergabung dengan Kedai Sayur, ia bisa memesan sayuran cukup lewat ponsel. Bagusnya pula, di Kedai Sayur, ia bisa memilih berapa kilogram untuk setiap jenis sayuran yang harganya lebih murah daripada di pasar. Barang belanjaan yang jelek juga bisa ditukar reject. Selain itu, semakin sering ia berbelanja di Kedai Sayur, makin banyak poin yang diperolehnya, yang bisa ditukarkan dengan hadiah. Untuk menjadi mitra Kedai Sayur pun prosesnya tidak berbelit-belit. “Semoga ke depannya beragam sayuran yang dibutuhkan konsumen selalu tersedia dan sistemnya juga semakin ditingkatkan,” kata Sunarto berharap. Untuk agenda ke depan, Kedai Sayur akan membangun lagi sebuah DC, yang akan dieksekusi pada Agustus 2019. Pasalnya, DC di Cilangkap sudah melebihi kapasitas. “Target kami, hingga akhir tahun ini sudah terbangun DC di Jakarta Barat dan Jakarta Timur,” kata Adrian. Dari segi aplikasi, Kedai Sayur akan memperkaya fiturnya. Misalnya, dari sisi kanal pembayarannya atau dari sisi produk yang bisa ditawarkan. Dari segi cakupan, Adrian menyebutkan, pihaknya akan ekspansi ke wilayah Bodetabek hingga akhir tahun depan. Untuk itu, ia menargetkan bisa menggandeng hingga sekitar Mitra Sayur. Jumlah ini diperkirakannya mampu mengover seluruh kelurahan di kawasan Jabodetabek. “Baru setelah itu kami juga ingin ekspansi ke Bandung dan Surabaya,” ungkap Adrian dengan semringah. * Joko Sugiarsono & Andi Hana Mufidah Elmirasari Home Internet Kamis, 17 Desember 2015 - 2023 WIB Aplikasi Tukang Sayur Keliling YukMart Segera Hadir A A A JAKARTA - Seiring perkembangan teknologi internet, berbagai ide kreatif dan inovasi lahir dari generasi muda Indonesia. Salah satunya adalah kehadiran aplikasi tukang sayur keliling, yang dibuat Dimas Anugrah Wicaksono ini muncul sebagai pemenang untuk kategori Applications Developer dalam ajang Indosat Oooredoo Wireless Innovation Contest IWIC ke-9, bersama 26 pemenang dari berbagai kategori lain."Aplikasi Yukmart merupakan aplikasi pasar tradisional online yang dibuat untuk membantu para tukang sayur keliling agar lebih mendapatkan kepastian saat menjual dagangannya," ujar Dimas dalam acara Awarding IWIC, Kamis 17/12/2015."Melalui aplikasi yang sedang kita kembangkan ini, tukang sayur keliling sudah tahu harus belanja apa saja dan dikirim ke siapa. Jadi pembeli tidak perlu lagi repot-repot harus pergi ke pasar. Seluruh belanjaannya bisa diantar langsung ke rumah tanpa mengeluarkan biaya ongkos kirim dan harga sayur akan sesuai dengan harga di pasar tradisional," lanjutnya. Hal ini sangat memudahkan karena pengguna aplikasi cukup memesan barang apa saja yang mereka butuhkan. Namun, ada batas waktu pemesanan maksimal pukul WIB."Setelah seluruh pesanan masuk, kami tinggal menghubungi supplyer untuk mengantar barangnya ke kita. Lalu diambil tukang sayur keliling untuk diantarkan ke rumah masing-masing pemesan,” jelas YukMart rencananya akan diluncurkan pada awal 2016, di wilayah Jakarta sebagai tahap pertama. Dalam aplikasi nanti juga akan dilengkapi fitur report bulanan untuk mengetahui berapa banyak uang yang sudah dihabiskan selama sebulan. Ada juga fitur komunitas untuk berbagi resep makanan favorit. Aplikasi ini melengkapi karya anak bangsa lainnya yang sukses mendapat sambutan dari masyarakat, seperti GoJek, LadyJek, GrabBike. So, tinggal tunggu bagaimana aplikasi ini dapat diterima masyarakat.dmd aplikasiaplikasi digital Berita Terkini More 56 menit yang lalu 2 jam yang lalu 2 jam yang lalu 2 jam yang lalu 2 jam yang lalu 4 jam yang lalu

apa saja yang dijual tukang sayur keliling